Rabu, 15 Juli 2015
Melancong Dua Hari ke Bengkulu
SABTU Legi, 11 Juli 2015. Petang itu sekitar jam 2 siang lebih sedikit, aku dan putra sulungku Sayid [9], bertolak dari Curup menuju ke Bengkulu. Kami naik sepeda motor. Sesampai di Kepahiang, kami berhenti sejenak untuk berfoto di depan gedung kantor bupati Kepahiang. Usai memotret putraku dua-tiga petik, kami melanjutkan perjalanan.
Sebelum memasuki perbatasan antara Kabupaten Kepahiang-Bengkulu Tengah, di sisi kiri jalan, aku melihat sejumlah orang berkerumun, nampaknya sebuah keluarga yang sedang liburan. Setelah kami mendekat, ternyata mereka ini ingin melihat Bunga Raflesia. Kata pemandu di tempat itu, beberapa bunga raflesia baru saja mekar.
“Jaraknya sekitar 400 meter ke bawah,” kata si penjaga.
Sebenarnya aku sangat ingin mengajak Sayid untuk menyaksikan langsung bunga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu. Rencanaku hari itu, aku ingin memotret Sayid yang sedang berada di samping bunga raflesia itu. Sekaligus biar dia tahu dan melihat secara langsung bentukdan ukuran bunga itu. Aku yakin dia akan memiliki pengalaman berharga dan menyenangkan agar sepulang dari perjalanan ini nanti dia bisa menceritakan semua itu kepada teman-temannya dengan rasa bangga.
Tapi, aku ragu, soalnya lokasi bunga cukup jauh dari sisi jalan. Sementara, sepeda motor kami harus di parkir jauh dari kami. Aku ragu kalau-kalau sepeda motor kami dilarikan pencuri saat kami sedang asyik menikmati keindahan bunga itu.
“Sudahlah, Bang, lain kali saja kita melihat bunga raflesia-nya,” bujukku ke Sayid. Untunglah Sayid bisa menerima, meskipun aku tahu, dari raut wajahnya, dia merasa sedikit kecewa.
Kami melanjutkan perjalanan. Sekira 30 menit berkendara, Sayid mengaku sangat lelah dan menyuruhku untuk berhenti. Dia juga mengaku agak ngantuk. Kami akhirnya berhenti di sebuah warung—menurutku warung remang-remang, tempat para wanita penjaja seks merayu para sopir yang “kebelet pipis”. Di situ kami memesan dua porsi pop mie dan soft drink merk pocari sweat.
Sembari menanti mie menjadi lembut karena direndam air panas, kami mencuci muka dan membasahi kepala, untuk menghilangkan rasa pusing karena agak lama berkendara. Tak lupa, aku mengabadikan momen makan pop mie itu dengan jepretan kamera yang sengaja kubawa dari rumah.
Usai makan pop mie itu kami melanjutkan “petualangan” kecil itu. Aku menyebutnya sebagai petualangan, agar menarik didengar Sayid, sehingga dia tidak merasa lelah dengan perjalanan itu. Memang, kalau berkendara sendirian, aku biasanya menghabiskan waktu sekitar 2 jam saja dari Curup ke Bengkulu. Tapi, kali ini, karena berdua dengan anak, ditambah lagi banyak berhenti, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bengkulu menjadi lebih lama.
Setelah berhenti makan mie di gunung tadi, kami baru berhenti lagi ketika sampai di Danau Dendam Tak Sudah. Di sini, Sayid memaksaku untuk berhenti lagi. Dia sangat antusias melihat pemandangan danau. Tak lama, sekitar 3 menit berada di situ, dan tak lupa aku memotret Sayid di sisi danau, kami bertolak lagi menuju rumah orang tuaku.
Sebelum ke rumah orang tuaku, aku membelokkan sepeda motor ke arah bengkel, untuk ganti oli. Aku merasakan mesin Mio Sporty yang kami kendarai ini sudah memanggil-manggilku agar segera diganti olinya. Mesin sudah sangat panas, pikirku, dan perlu segera diademkan.
Susah Tidur
Inilah momen yang tak kusukai jika bermlam di Bengkulu: susah tidur. Yang pertama, banyak nyamuk. Yang kedua, cuaca panas. Yang ketiga, banyak lipan atau kelabang. Inilah yang paling menyiksaku kalau berada di Bengkulu dan harus bermalam.
Malam itu setelah pulang dari rumah adikku, sekitar jam setengah sebelas, kami merebahkan diri di tempat tidur. Kubentang kasur santai di depan tv di ruang tamu, aku dan Sayid mencoba memejamkan mata. Karena cuaca bertambah panas dengan cahaya lampu di ruangan itu, aku mematikan lampu ruangan tengah. Tapi, masalah baru yang timbul: dengung suara nyamuk.
Karuan saja, aku dan Sayid susah sekali untuk langsung terlelap. Ditambah lagi Sayid yang sesekali terbangun karena mendengar suara dengkuran ayahku, yang kemungkinan sangat lelah karena telah berpuasa seharian. Akhirnya, meskipun tidur ayam, pagi hari yang kunantikan pun tiba jua.
Pagi itu, selepas mandi, ibu menyediakan dua bungkus mie goreng instan untuk Sayid. Karena Sayid tak habis, sisa mienya aku yang habiskan. Lumayanlah untuk menambah sedikit energi. Soalnya, bulan puasa, aku tak enak hati mau makan di rumah orang tuaku.
Usai sarapan, aku mengajak Sayid ke tokoh buku Gramedia yang terletak di Mega Mall Bengkulu. Kami membeli beberapa buku dan komik. Tak lupa, aku pun meskipun secara diam-diam, memotret Sayid yang sedang memilih-milih buku. Kenapa motret diam-diam? Ya. Soalnya pas masuk Gramedia tadi, petugas tak memberitahuku tak boleh memotret saat berada di dalam toko. Aku tak tahu alasannya secara pasti, dan aku tak terpikir untuk menanyakan alasan kebijakan itu.
Setelah membayar di kasir, kami meninggalkan Gramedia dan menuju ke lantai tiga. Di lantai tiga ini khusus arena permainan anak atau lebih dikenal Time Zone. Meski tak ikut main di time zone, aku hanya memotret Sayid saja di tempat-tempat yang menurutkan bagus. Beberapa kali Sayid memintaku agar ia bisa main mobil-mobilan, tapi aku menolaknya.
“Bapak tidak tahu mau beli karcisnya dimana,” bisikku, hehehe.
Dengan berbagai argumen Sayid pun memberitahuku untuk mendapatkan karcisnya. Tapi, inilah sifatku. Aku paling malas bertanya sana-sini seperti orang kampung yang baru masuk kota. Aku benci tetek bengek. Aku tak mau yang ribet-ribet.
Sekitar 20 menit berada di time zone, kami meninggalkan Mega Mall dan menuju ke Pantai Panjang. Karena masih tengah hari, suasana pantai masih sepi. Hanya ada dua-tiga orang saja yang berada di pantai hari itu. Tak lama berada di situ, seorang pria berusia sekitar 40-an tahun mendekatiku untuk meminta uang parkir.
“Berapa Pak?” tanyaku.
“Dua ribu, Pak,” jawabnya, sembari menyarankanku agar memarkir motor di tempat teduh saja.
Usai berpindah tempat parkir, aku mulai mengeluarkan kamera dan kami menuju ke bibir pantai. Dari kejauhan aku melihat Sayid yang sedang asyik bermain berkejaran dengan air laut. Sesekali dia menuliskan namanya di pasir dengan sebilah kayu. Tak jauh darinya, ada dua orang nelayan entah sedang memperbaiki jala atau apa, aku tak begitu memperhatikan.
Kameraku mulai menjepret beberapa kegiatan Sayid di pantai itu. Tak lama sih kami di situ, soalnya jam 2 siang itu kami harus segera pulang ke Curup. Beberapa kali Sayid aku peringatkan agar jangan terlalu ke bibir pantai, Gelombang laut Bengkulu sangat besar. Aku hanya khawatir saja.
Usai dari pantai, kami langsung menuju ke rumah orang tuaku lagi. Di tengah perjalanan, untuk mengisi perut kami singgah di kedai Mie Cak Brewok di daerah Lingkar Barat. Aku memesan dua mangkuk mie ayam, Sayid pun tak mau ketinggalan dengan memesan jus mangga dan teh botol.
Setelah kenyang dan foto-foto, kami menuju rumah orang tauaku. Usai berpamitan, hari itu kami langsung bertolak menuju Curup. []
Langganan:
Postingan (Atom)














